OM SWASTYASTU.......................SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI................................

Rabu, 27 Oktober 2010

BABAD PULASARI / DALEM TARUKAN bag1

Mudah-mudahan tiada halangan !
Permohonan maaf hamba ke hadapan arwah para leluhur yang
disemayamkan dalam wujud Ongkara dan selalu dipuja dengan hati suci.
Dengan memuja dan memuji kebesaran Sanghyang Siwa semoga penulis
terhindar dari segala kutukan, derita, cemar, duka-nestapa, dan halangan
lainnya. Mudah-mudahan tujuan hamba yang suci ini berhasil serta bebas
dari dosa-dosa karena menguraikan cerita leluhur di masa lampau, semoga
direstui sehingga mendapat kejayaan, keselamatan, keabadian, panjang
usia, sampai dengan seluruh keluarga turun temurun.
Baiklah kisah ini saya mulai:
Majapahit yang dipimpin Raja Putri: Sri Ratu Tribhuwanottunggadewi
Jayawisnuwardhani bersama Patih Agung: Gajah Mada berhasil menguasai
Kerajaan Bali Aga yang dipimpin oleh Raja: Paduka Bathara Sri Asta Asura
Ratna Bumi Banten (dikenal dengan nama: Bedahulu) dengan Patih: Ki
Pasung Grigis dan Ki Kebo Iwa, pada tahun 1343 M atau isaka 1265.
Pimpinan Pemerintahan sementara diserahkan kepada Mpu Jiwaksara yang
kemudian bergelar Ki Patih Wulung. Beliau menempatkan pusat
Pemerintahan di Gelgel. Walaupun Bali sudah dikalahkan Majapahit, tidak
berarti rakyat dan tokoh-tokoh militer Bali Aga sudah menyerah. Mereka
terus mengadakan perlawanan di bawah tanah, dan sekali-sekali muncul ke
permukaan, misalnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Tokawa di
Ularan, dan Ki Buwahan di Batur.
Setelah tujuh tahun barulah pemberontakan-pemberontakan dapat
dipadamkan, namun rakyat Bedahulu masih belum mau menerima
kehadiran "si-penjajah" sepenuh hati. Melihat keamanan sudah membaik
dan Pemerintahan sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya, maka pada
tahun 1350 M atau 1272 isaka, Ki Patih Wulung berangkat ke Majapahit
untuk menghadap Sri Ratu. Tujuannya adalah melaporkan situasi di Bali dan
memohon penunjukan seorang Raja di Bali Dwipa.
Atas saran Patih Agung Gajah Mada, pada tahun itu juga dilantiklah empat
orang Raja, putra-putri Sri Soma Kepakisan, untuk memimpin
kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, yaitu: Sri Juru, menjadi Raja di
Blambangan, Sri Bhima Sakti menjadi Raja di Pasuruan, Sri Kepakisan
(putri) menjadi Raja di Sumbawa, dan Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja
di Bali Dwipa.
Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai
memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272
isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh. Ibu
kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Ki
Patih Wulung menjabat sebagai Mangku Bumi.

Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama: Ni Gusti Ayu
Gajah Para, melahirkan: Dalem Wayan (Dalem Samprangan), Dalem
Di-Madia (Dalem Tarukan), Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih
anak-anak), dan Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). Istri yang kedua: Ni
Gusti Ayu Kuta Waringin, melahirkan: Dewa Tegal Besung.
Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka.
Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar
Dalem Sri Agra Samprangan. Beliau memerintah secara sah sampai tahun
1383 M atau 1305 isaka, kemudian beliau digantikan oleh adiknya yaitu:
Dalem Ketut Ngulesir, bergelar Dalem Sri Semara Kepakisan, memerintah
sejak tahun 1383 M atau 1305 isaka sampai tahun 1460 M atau 1382 isaka.
Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel yang diberi nama
baru: Sweca Pura.
Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau
1295 isaka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya
upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh
para Menteri dan pembantu dekat Raja.
Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Raja yaitu Dalem
Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia
membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu
beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau
berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi
ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.
Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud
menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan
Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara
Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena
dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebahagian besar masih belum
mengakui pemerintahan Samprangan.
Sementara itu pergolakan di Puri Samprangan makin memanas, ditandai
dengan pemberian julukan yang tidak pada tempatnya kepada Raja, di
mana Dalem Sri Agra Samprangan diberi julukan Dalem Ile (Ile=gila), Dalem
Tarukan dinyatakan "rangseng" (=gila karena marah), dan Dalem Ketut
dinyatakan sangat suka berjudi, khususnya mengadu ayam.
Julukan tidak pada tempatnya yang diberikan kepada para Raja itu sangat
bertentangan dengan ajaran agama Hindu yang senantiasa mengajarkan
penghormatan tinggi kepada Pemimpin Pemerintahan. Penghinaan kepada
Raja itu jelas fitnah, karena jika benar adanya, pasti Maha Raja Majapahit
dan Maha Patih Gajah Mada tidak akan tinggal diam. Tindakan pemecatan
atau penggantian Raja pasti dilakukan. Selain itu, jika julukan itu benar,
para musuh, yaitu rakyat Bedahulu akan mempunyai peluang yang baik
untuk menggulingkan Pemerintahan Samprangan.
Setelah selesai membangun Puri, Dalem Tarukan menikahi seorang
Bidadari dari Gunung Lempuyang. Karena belum mempunyai putra, beliau

mengajak kemenakannya, yaitu cucu Dalem Wayan, Raja Blambangan,
bernama: Kuda Penandang Kajar untuk tinggal bersama-sama di Puri
Tarukan.
Kuda Penandang Kajar adalah seorang pemuda yang tampan, gagah, dan
mempunyai kekuatan batin yang tinggi, khusus untuk meneliti apakah tanah
ada kandungan emasnya atau tidak. Karena itulah Puri Tarukan sangat
mewah dan terkesan kaya raya karena dipenuhi ornamen emas murni.
Dalem Tarukan sangat menyayangi kemenakannya.
Pemerintahan Samprangan di ambang kehancuran, karena tidak adanya
dukungan dari para Menteri dan pembantu Raja. Dalem Wayan merasa
perlu memanggil adik beliau yaitu Dalem Ketut untuk diajak kembali tinggal
di Puri Samprangan. Maksudnya agar Dalem Ketut turut membantu beliau
menyelenggarakan pemerintahan.
Perbekel Kaba-Kaba diutus beliau untuk menjemput Dalem Ketut ke Desa
Pandak, tetapi Dalem Ketut menolak karena beliau merasa belum mampu
memimpin kerajaan di Samprangan. Jika Samprangan telah dipenuhi oleh
para menteri dan pembantu Raja yang tidak setia, apakah beliau akan dapat
memimpin dengan baik ?
Sementara Dalem Ketut mencari jalan keluar memecahkan masalah ini,
datanglah Kuda Penandang Kajar sebagai utusan Dalem Tarukan memohon
Dalem Ketut pulang untuk memimpin Kerajaan Samprangan. Dalem
Tarukan sendiri tidak berniat menjadi Raja, karena beliau lebih tertarik
kepada profesi kepanditaan. Pesan lain yang disampaikan Kuda Penandang
Kajar adalah, jika Dalem Ketut berkenan, beliau dibolehkan menggunakan
istana Tarukan.
Walaupun penjemputan kali ini penuh penghormatan dan kemewahan,
misalnya dengan kuda tunggangan istimewa bernama I Gagak dan sebuah
keris milik Dalem Tarukan yang bernama I Pangenteg Rat, Dalem Ketut
tetap menolak permintaan kakaknya itu, sekali lagi dengan alasan belum
mampu memimpin atau menjadi Raja.
Kecewa karena tugasnya tidak berhasil, Kuda Penandang Kajar kembali ke
Tarukan dengan lesu. Di perjalanan beliau disambar burung gagak hingga
destarnya jatuh. Sesampainya di gerbang istana Tarukan, dilihatnya
puncak gelung kuri terpenggal. Hanya Kuda Penandang Kajar yang melihat
demikian, sementara para pengiringnya tidak melihat puncak gelung kuri itu
terpenggal. Pertanda buruk ini terkesan mendalam di hati Kuda Penandang
Kajar, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Dalem Tarukan prihatin pada sakit
yang diderita kemenakannya ini.
Sementara itu tersiar berita yang mengagetkan, bahwa para panglima
perang Samprangan merencanakan memerangi Kerajaan Blambangan.
Dalem Tarukan tidak setuju dengan rencana itu, mengingat bahwa Dalem
Blambangan, yaitu ayah Kuda Penandang Kajar, masih saudara sepupu
beliau. Dalem Tarukan berpendapat bahwa rencana itu mempunyai latar
lain, mungkin saja gerakan merebut kekuasaan, yaitu bila prajurit dikerahkan
ke Blambangan, Dalem Wayan akan mudah digulingkan.

Dalem Tarukan cepat mengambil inisiatif untuk mengikat tali persaudaraan
antara Samprangan dengan Blambangan, yaitu dengan menikahkan Kuda
Penandang Kajar dengan putri Dalem Wayan, bernama I Dewa Ayu Muter.
Dengan ikatan tali persaudaraan itu, perang dapat dicegah. Sakitnya Kuda
Penandang Kajar menjadi suatu jalan untuk memohon restu para Dewata.
Jika Dewata mengijinkan pernikahan ini, kesembuhan Kuda Penandang
Kajar menjadi suatu batu ujian. Pertimbangan lain, Dalem Tarukan melihat
bahwa Kuda Penandang Kajar sudah cukup dewasa, dan dari gelagat
sehari-hari nampaknya tertarik kepada I Dewa Ayu Muter.
Terucaplah tegur sapa Dalem Tarukan kepada Kuda Penandang Kajar:
Duhai anakku, segeralah sembuh; ayah berkeinginan mengawinkan anak
dengan I Dewa Ayu Muter. Ternyata permohonan Dalem Tarukan kepada
para Dewata terkabul. Kuda Penandang Kajar segera sembuh dan sehat
seperti semula. Tentu saja Dalem Tarukan sangat bergembira. Kini beliau
merencanakan mewujudkan perkawinan kedua muda-mudi itu.
Untuk meminang tentu saja tidak mungkin, karena posisi Dalem Wayan
sangat lemah. Beliau hampir tidak dapat memutuskan sesuatu. Semua
keputusan diambil oleh para Menteri. Akhirnya dilaksanakanlah perkawinan
secara adat kawin-lari. Awalnya perkawinan itu berjalan lancar, sampai pada
malam hari terjadi hal yang merupakan akhir dari keberadaan Puri Tarukan.
Kedua mempelai yang sedang berbulan madu di peraduan, tewas
berbarengan tertusuk senjata keris. Seorang abdi perempuan pengasuh I
Dewa Ayu Muter di Puri Samprangan melaporkan secara tergesa-gesa
kepada Dalem Wayan bahwa putri beliau satu-satunya , yaitu I Dewa Ayu
Muter, semalam telah tewas di Puri Tarukan terbunuh oleh Ki Tanda
Langlang. Dalem Wayan tentu saja sangat terkejut dan segera memanggil
para menterinya. Seorang panglima perang menyampaikan ceritra yang
lengkap, serta memperkuat keyakinan Dalem Wayan bahwa putri beliau
bersama-sama Kuda Penandang Kajar benar telah tewas ditikam Ki Tanda
Langlang.
Betapa murkanya Dalem Wayan setelah mendapat penjelasan para
Menterinya itu. Segera disuruhlah memukul kentongan dengan suara "bulus"
sehingga para prajurit segera berkumpul di halaman istana. Di saat itu
Dalem Wayan memerintahkan pasukan Dulang Mangap yang dipimpin
Panglimanya Kiyai Parembu, menyerang menghancurkan Puri Tarukan
serta menangkap Dalem Tarukan hidup atau mati. Dengan bersorak gegap
gempita pasukan itu bergegas menuju Puri Tarukan.
Kini diceritakan Ide Bethara Dalem Tarukan di Puri Tarukan. Betapa sedih
dan terkejutnya beliau menyaksikan nasib yang tragis menimpa putra
kesayangannya bersama menantunya yang meninggal di kamar pengantin
justru pada malam pertama yang seharusnya berkesan sangat bahagia.
Beliau sadar bahwa kejadian ini adalah puncak upaya yang sangat keji dari
orang-orang yang ingin menguasai kerajaan Samprangan. Beliau ingin
menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan dengan kakak beliau, tetapi
nampaknya keadaan sudah tidak memungkinkan lagi karena Dalem Wayan
sudah termakan fitnah. Terdengar pula berita bahwa pasukan Dulang
Mangap sedang menuju Puri Tarukan untuk menangkap beliau dan

menghancurkan Puri Tarukan.
Di saat yang berbahaya itu beliau cepat berpikir dan kemudian
dikumpulkanlah semua prajurit Tarukan. Beliau meminta agar bila pasukan
Dulang Mangap datang, prajurit Tarukan menyerah, tidak melawan, dengan
cara membuang senjata dan duduk bersila di tanah dengan posisi kedua
tangan memeluk tengkuk (leher bagian belakang). Beliau juga meminta agar
permaisuri tetap tinggal di istana dan menyerah kepada Dalem Wayan.
Betapa sedih dan pilu hati permaisuri tiada terperikan. Ingin beliau menyertai
Dalem Tarukan pergi ke mana saja, tetapi itu tidak mungkin karena beliau
sedang hamil besar.
Prajurit Tarukan juga tidak mau menyerah begitu saja. Mereka sangat
mencintai Dalem Tarukan dan meminta diijinkan menghadapi pasukan
Dulang Mangap sampai habis-habisan (perang puputan). Dalem Tarukan
tidak mengijinkan. Beliau mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah
pertikaian antar keluarga, yaitu beliau dengan kakak beliau, Dalem Wayan.
Beliau tidak ingin karena pertikaian keluarga ini lalu rakyat yang menjadi
korban sia-sia. Dengan berat hati beliau juga berpesan kepada permaisuri
agar baik-baik menjaga putranya yang masih di kandungan.
Permaisuri tetap berlutut meratapi keputusan Dalem Tarukan. Dalem
Tarukan berusaha menenangkan permaisuri dengan mengatakan bahwa
kejadian ini sudah kehendak Dewata. Kita sebagai manusia tiada daya
menolak kehendak Yang Maha Kuasa. Karena itu pasrahlah; serahkanlah
hidup mati kita kepada-Nya. Setelah itu beliau segera berangkat seorang
diri ke arah utara.
Pasukan Dulang Mangap di bawah Panglimanya Kiyai Parembu dengan
teriakan-teriakan histeris bagaikan serigala haus darah, tiba di Puri Tarukan.
Mereka terheran-heran karena melihat semua pasukan dan rakyat Tarukan
menyerah total tanpa perlawanan, bahkan duduk bersila dengan pandangan
menunduk memandang tanah. Sesuai aturan perang, seorang kesatria tidak
akan membunuh pasukan yang sudah menyerah apalagi tanpa senjata.
Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai
jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang
bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri
Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring
ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377
M atau 1299 isaka.
Kiyai Parembu menghadap Dalem Wayan di Puri Samprangan, dan
melaporkan bahwa Dalem Tarukan telah melarikan diri ke arah utara.
Segala hasil jarahan Puri Tarukan diserahkan, dan permaisuri Dalem
Tarukan ditawan di Puri Samprangan. Dalem Wayan memerintahkan Kiyai
Parembu untuk meneruskan pengejaran esok harinya. Kiyai Parembu
menyiapkan pasukan bersenjata sebanyak 2000 orang.
Perjalanan Ide Bethara Dalem Tarukan sejak dari Puri Tarukan, secara
berurut adalah sebagai berikut:

TARO Di desa ini beliau tidak lama, hanya lewat saja, kemudian karena
dikejar terus oleh pasukan Dulang Mangap, beliau memutar kembali menuju
desa:
TAMPUWAGAN Di suatu tanah persawahan beliau melihat banyak orang
sedang menanam padi. Ada seorang petani yang sedang membuang
kotoran di sungai, dan bajunya ditinggalkan di tepi sungai. Baju itu lalu
diambil oleh Dalem Tarukan, dikenakan, lalu beliau turut serta dengan para
petani menanam padi. Seketika datanglah pasukan Dulang Mangap yang
mengagetkan para petani.
Kiyai Parembu bertanya, apakah para petani melihat Dalem Tarukan di
sekitar situ. Para petani serentak menjawab, tidak melihat siapa-siapa
apalagi Dalem Tarukan. Pasukan Dulang Mangap memeriksa sekali lagi dan
meneruskan pengejaran ke utara. Beberapa saat kemudian si petani yang
selesai membuang kotoran itu bangkit dari sungai, mencari bajunya namun
tidak ditemukan.
Dalem Tarukan berdiri sambil membuka penyamarannya. Seketika para
petani terkesima karena baru kali itu mereka menatap sosok Dalem Tarukan
yang tinggi besar, gagah perkasa, dengan raut wajah yang sangat tampan
namun berwibawa. Kulit kehitaman dan rambut berombak yang panjangnya
sebatas bahu menambah kewibawaan beliau. Para petani sujud
menyembah serta mohon maaf karena tidak mengetahui kehadiran beliau di
antara mereka.
Beliau, Dalem Tarukan menjelaskan secara singkat halangan yang
menimpa, serta berpesan : "wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan,
janganlah lagi kamu me-"cokor I Dewa" terhadapku. Kamu boleh
menyapaku dengan "I Ratu, Gusti atau Jero", karena aku akan tetap
menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari
pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan".
Walaupun tidak rela, para petani itu serempak menyembah beliau dan
merasa iba dengan nasib malang yang menimpa junjungan mereka itu. Dari
Tampuwagan Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke desa:
PANTUNAN Para pengejar yang mendapat informasi bahwa Dalem Tarukan
ada di Desa Pantunan, segera ke sana. Beberapa saat sebelum
kedatangan pasukan Dulang Mangap, Ide Bethara Dalem Tarukan telah
diberi tahu oleh para petani di Pantunan. Beliau lalu bersembunyi di bawah
pohon Jawa dan semak-semak pohon Jali yang tumbuh subur.
Ada sepasang burung perkutut hinggap di atas pohon Jawa tepat di atas
persembunyian beliau seraya berkicau amat merdunya. Ada pula seekor
burung puyuh berkeliaran dekat kaki beliau sambil berkicau. Para pengejar
sudah berada dekat sekali ke pohon Jawa dan Jali tempat persembunyian
beliau. Hampir saja mereka menguakkan semak-semak itu, namun tiba-tiba
seorang pengejar mencegah. "Mana mungkin ada orang di situ, lihatlah
burung-burung itu bertengger dan berkicau dengan tenang; jika ada
manusia mereka sudah pasti terbang menghindar".

Pengejar yang lain membenarkan dan mereka meneruskan perjalanan.
Terhindarlah Ide Bethara Dalem Tarukan dari penangkapan. Beliau lalu
keluar dari semak-semak. Alangkah besar perlindungan Ide Sanghyang
Parama Kawi. Seolah-olah semak-semak dan burung-burung itulah yang
diminta oleh-Nya untuk melindungi beliau.
Di saat itulah dengan terharu beliau berterima kasih kepada semak-semak
dan burung-burung, sehingga terucaplah janji beliau agar seketurunan
beliau tidak membunuh/merusak serta memakan Jawa, Jali, burung
perkutut dan burung puyuh. Di malam hari beliau meneruskan perjalanan ke
desa:
POH TEGEH Di desa Poh Tegeh (kini bernama Desa Suter) bermukimlah
seorang kesatria bernama I Gusti Ngurah Poh Tegeh. Kesatria ini
mempunyai nama/biseka lain yaitu I Gusti Ngurah Poh Landung, atau Kiyai
Poh Tegeh, atau Kiyai Poh Landung, keturunan dari Sri Jayakata, Raja
Tumapel (Jawa Timur) setelah wafatnya Sri Jayakatong. Datang ke Bali
pada tahun 1350 M atau 1272 isaka mengemban tugas mengawal Ide
Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan.
Sudah beberapa hari beliau mendengar berita bahwa Dalem Tarukan
sedang berselisih dengan Dalem Wayan. Tiba-tiba di keremangan sinar
bulan malam itu Kiyai Poh Tegeh terkejut menerima kedatangan Dalem
Tarukan. Sang Kiyai segera menyambut dan bertanya meminta ketegasan,
kenapa Dalem Tarukan datang mendadak, seorang diri tanpa pengiring.
Dalem Tarukan kemudian menjelaskan duduk persoalan selengkapnya dari
awal hingga akhir. Kiyai mendengarkan dengan seksama, kemudian
timbullah rasa ibanya. Kiyai memohon agar Dalem Tarukan tidak ke
mana-mana lagi. Ia mempunyai suatu tempat yang dinamakan pedukuhan
Bunga. Tempat itu dikitari hutan lebat dan jauh dari jalan yang biasa dilalui
manusia. Dalem Tarukan menyetujui dan keesokan harinya beliau ke sana
diiringi Kiyai Poh Landung.
PEDUKUHAN BUNGA Di Pedukuhan Bunga beliau disambut oleh Dukuh
Bunga yang juga menyediakan pondoknya untuk ditinggali Dalem Tarukan.
Dalem Tarukan sangat terharu atas kesetiaan dan keramahtamahan Kiyai
Poh Landung dan Dukuh Bunga beserta keluarga dan seluruh rakyatnya.
Keberadaan beliau di pedukuhan dirahasiakan sehingga Dalem Tarukan
menetap dalam waktu lama dengan tenang. Di sini beliau memperdalam
ilmu kependetaan bersama-sama Dukuh Bunga. Di suatu hari Dalem
Tarukan merasa sedih karena mengenang peristiwa hancurnya Puri
Tarukan. Beliau belum tahu bagaimana nasib permaisuri yang ketika
ditinggalkan sedang hamil tua. Lama beliau termenung. Hal ini diperhatikan
oleh Kiyai Poh Landung.
Kiyai turut prihatin dan memikirkan bagaimana cara menghibur Dalem
Tarukan. Kiyai menemukan jalan dan merencanakan menghaturkan putrinya
yang bernama Ni Gusti Luh Puaji sebagai istri Dalem Tarukan. Beberapa
hari kemudian Kiyai mengusulkan rencananya itu kepada Dalem Tarukan.
Beliau menerima dengan baik usul Kiyai, dengan pertimbangan perlunya
Page 7 of 28 .
menurunkan "sentana" dan juga menghormati kesetiaan Kiyai Poh Landung.
Pertimbangan yang sama pula disampaikan ketika para pengikut setia beliau
di kemudian hari masing-masing menghaturkan putri mereka sebagai
istri-istri Dalem Tarukan. Secara bertahap berkembanglah keluarga Ide
Bethara Dalem Tarukan sebagai berikut :
No   Nama Mertua           Nama Istri             Nama Putra / Putri

1     Permaisuri  Puri         Dedari Kuning       Dewa Agung Alit /
       Tarukan                    (Lempuyang)         Dewa Bagus Dharma /
                                                                    Dewa Gede Muter /
                                                                    Dewa Gede Sekar

2    Gusti Ngurah             Gusti Luh Puaji      Gusti Gede Sekar
      Poh Landung                                          Gusti Gede Pulasari
   
3    Dukuh Bunga             Jero Sekar            Gusti Gede Bandem                           

4    Dukuh Darmaji          Jero Dangin           Gusti Gede Dangin

5    Jero Mekel                Jero Belayu           Gusti Gede Belayu
      Belayu

6    Gusti Gede                Gusti Luh               Gusti Gede Balangan
      Bekung                     Balangan                Gusti Luh Wanagiri
                   

Di pedukuhan Bunga beliau sekeluarga hidup aman, tenteram, dan
berbahagia. Di waktu-waktu senggang beliau menanam berbagai macam
kembang, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Dengan kelima istri dan
ketujuh putra/putrinya beliau hidup rukun dan damai; bercengkrama,
bersenda gurau, bermain-main di hutan dan mandi-mandi di sungai diselingi
gelak tawa riang putri, si bungsu Gusti Luh Wanagiri.
Ide Sanghyang Parama Kawi yang maha kuasa, telah mengaruniai beliau
putra-putra yang tampan, gagah dengan ciri-ciri khas wibawa
kebangsawanan. Tak kalah dengan si mungil, putri beliau satu-satunya,
tanda-tanda kecantikan yang masih tersembunyi menunggu saat
menyembul di kemudian hari.
Hentikan dulu sejenak cerita di pedukuhan Bunga. Kini diceritakan keadaan
Dalem Wayan di Puri Samprangan. Sudah sekian lama Kiyai Parembu
mengejar Dalem Tarukan ke hutan-hutan dan desa-desa di pegunungan,
tiada kabar berita, membuat Dalem Wayan resah. Dalam hati kecilnya beliau
menyesal telah mengeluarkan perintah yang demikian kejam namun sebagai
seorang Raja tidak mungkin beliau menarik kembali perintah itu.
Kini beliau mengharap semoga adik kandung beliau itu selamat dan untuk
bisa selamat selamanya, diperkirakan Dalem Tarukan telah berhasil
menyeberang ke Jawa, jika benar maka jalan yang terbaik adalah melalui
Desa Kubutambahan di bekas kerajaan Dalem Kesari Marwadewa, yaitu di
Pura Penyusuan.

Rasa kesepian karena tiada saudara sekandung, perasaan bersalah yang
terus menghantui, serta siasat dari para Menteri yang tiada hentinya,
membuat Dalem Wayan tidak bergairah memimpin pemerintahan Kerajaan
Samprangan. Perasaan bersalah Dalem Wayan makin menjadi-jadi setelah
istri Dalem Tarukan yaitu bidadari dari Lempuyang moksah ketika putra yang
dilahirkannya genap berusia 42 hari. Bayi mungil ini dinamai I Dewa Bagus
Dharma. Berhari-hari Dalem Wayan di peraduan saja, tidak beda seperti
orang yang sedang sakit. Para menteri dan petinggi kerajaan yang ingin
menghadap tidak berhasil menemui beliau, sehingga lama kelamaan roda
pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Keadaan ini mengkhawatirkan beberapa menteri karena dapat
membahayakan kelangsungan berdirinya kerajaan Samprangan, apalagi
kaum pemberontak dari kalangan Bali Aga masih terus berusaha
menggulingkan kerajaan. Seorang menteri bernama Kiyai Kebon Tubuh
mengambil inisiatif berangkat ke desa Pandak (Tabanan) menjemput Dalem
Ketut Ngulesir untuk memohon beliau bersedia menjadi Raja.
Kiyai berhasil menemui Dalem Ketut di arena sabungan ayam sedang
berwajah lesu karena baru saja kalah bertaruh. Kiyai melaporkan secara
singkat keadaan Dalem Wayan di Puri Samprangan dan peristiwa
menyedihkan yang terjadi di Puri Tarukan.
Sejenak Dalem Ketut termenung membayangkan betapa tragisnya nasib
beliau tiga bersaudara. Kiyai melanjutkan permohonannya agar Dalem Ketut
sudi pulang ke Samprangan untuk memimpin kerajaan Bali Dwipa.
Walaupun Dalem Ketut sudah lama meninggalkan Samprangan, beliau
selalu memantau apa yang terjadi di Puri Samprangan. Permintaan Kiyai
Kebon Tubuh itu memang patut dipertimbangkan demi menjaga
kelangsungan roda pemerintahan, namun bagaimana nanti dengan
kedudukan Dalem Wayan ?
Pemikiran Dalem Ketut itu nampaknya terbaca oleh Kiyai Kebon Tubuh.
Segera ia menawarkan agar Dalem Ketut memerintah dari Gelgel, bukan
dari Samprangan. Dengan kata lain kerajaan seolah-olah sudah dipindahkan
ke Gelgel. Tawaran ini disetujui Dalem Ketut dan segeralah beliau berangkat
ke Gelgel (tahun 1380 M atau 1302 isaka).
Dalem Ketut Ngulesir membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik
Kiyai Kebon Tubuh. Berita ini didengar oleh Dalem Wayan namun tidak
bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup. Para menteri dan
pembantu Raja di Samprangan banyak yang berpindah ke Gelgel atas
kemauan sendiri karena merasa lebih senang mengabdi kepada Dalem
Ketut. Roda pemerintahan diatur dari Gelgel yang telah berganti nama
menjadi Suwecapura. Para Manca yang tinggal di pedesaan dan
pegunungan mendengar berita ini lalu datang menyatakan dukungan dan
kesetiaan kepada Dalem Ketut.
Sementara itu Dalem Wayan makin parah sakitnya dan akhirnya beliau
moksah pada tahun 1383 M atau 1305 isaka. Setelah Dalem Wayan
moksah barulah Dalem Ketut menyelenggarakan upacara penobatan Raja

(biseka Ratu) dengan gelar Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan. Segera
setelah Dalem Ketut resmi menjadi Raja, beliau teringat pada kakak beliau,
Dalem Tarukan. Diutuslah Kiyai Kebon Tubuh ke pedukuhan Bunga untuk
meminta Dalem Tarukan kembali ke Tarukan atau ke Suwecapura.
Permintaan ini ditolak beliau karena beberapa pertimbangan antara lain: jika
kembali ke Tarukan, istana ini sudah hancur dan akan mengingatkan
kenangan pahit yang dialami beberapa tahun lampau. Istri beliau yang
dicintai, yaitu bidadari Lempuyang-pun (dijuluki : Dedari Kuning) telah
moksah. Jika ke Suwecapura, walaupun adik beliau Dalem Ketut mau
menerima, belum tentu para menteri dan petinggi kerajaan lain mau juga
menerima dengan baik; sementara itu beliau sudah berbahagia di
pedukuhan Bunga.
Kiyai Kebon Tubuh kembali ke Suwecapura dan melaporkan penolakan
Dalem Tarukan tersebut. Dalem Ketut kecewa karena maksud baik beliau
tidak ditanggapi oleh Dalem Tarukan, namun beliau dapat memahami
pemikiran kakak beliau itu. Dalem Tarukan yang menduga bahwa para
menteri di Suwecapura dan para pengejar dari Samprangan telah
mengetahui tempat persembunyian beliau, lalu memutuskan untuk
meninggalkan pedukuhan Bunga. Berangkatlah rombongan keluarga besar
itu diiringi oleh Dukuh Darmaji dan beberapa rakyatnya menuju desa:
SEKAHAN
Hanya semalam beliau ada di desa Sekahan, kemudian meneruskan
perjalanan ke desa:
SEKARDADI
Di sini beliau beserta rombongan bermalam di pondok kerabat Jero Dukuh
Darmaji selama tiga malam, kemudian meneruskan perjalanan ke desa:
KINTAMANI
Hanya lewat saja, lalu terus menuju desa:
PANARAJON
Di sini rombongan beliau dihembus angin topan sehingga sebelas pengiring
beliau meninggal dunia. Setelah topan reda, rombongan meneruskan
perjalanan ke desa:
BALINGKANG
Merasa aman, di sini beliau tinggal selama tiga bulan; setelah itu rombongan
menuju desa:
SUKAWANA
Dalam perjalanan yang melelahkan ini putri beliau yang berusia 4 tahun,
Gusti Luh Wanagiri menangis karena lapar. Dalem Tarukan lalu bertanya
kepada Dukuh Darmaji apakah membawa makanan. Dukuh menjawab, tidak
membawa makanan, hanya beberapa genggam beras. Dalem Tarukan lalu
tergesa-gesa memberikan beras itu kepada putrinya, karena tidak sempat
lagi memasaknya. Beberapa saat kemudian putrinya sakit perut karena
memakan beras mentah dan akhirnya tidak tertolong. Putri yang dicintainya

meninggal dunia. Betapa sedih beliau dan terucaplah kata-kata beliau: "Ya,
Tuhan betapa besar cobaan yang kami terima, sangat besarlah penyesalan
kami karena seolah-olah memberi jalan kematian putriku. Nah agar hal ini
tidak terulang lagi, wahai semua putra dan semua keturunanku, kelak di
kemudian hari janganlah sekali-kali kalian memakan beras mentah" Setelah
itu Dalem Tarukan lalu meminta Ki Pasek Sikawan mengubur jenazah
putrinya. Karena letak desa Sukawana di sebelah timur bukit Penulisan,
maka agar prabu layon berada di "hulu" dikuburlah jenazah putrinya dengan
kepala di arah barat. Di saat ini terucaplah bisama beliau agar seketurunan
beliau bila meninggal atau di-aben agar kepala berada di arah barat,
sebagai tanda ingat akan peristiwa menyedihkan ini. Dari Sukawana beliau
menuju ke desa:
SIKAWAN
Di desa ini beliau ditemui oleh Ki Pasek Ban dan Ki Pasek Jatituhu. Beliau
sempat beristirahat selama tiga bulan, selanjutnya menuju desa:
PENEK
Tidak menetap, hanya memintas saja, lalu terus ke desa:
BAN (EBAN)
Juga tidak menetap, terus ke desa:
TEMANGKUNG
Tidak menetap, terus ke desa:
CARUCUT
Perjalanan menelusuri pantai; tiba di suatu tempat yang indah beliau
berhenti sejenak. Sudah sekian jauh beliau berjalan baru di situlah merasa
lega dan firasat beliau mengatakan bahwa tempat ini aman dari kejaran
pasukan Dulang Mangap. Beliau lalu membicarakan rencana untuk menetap
di situ. Semua pengikut beliau: Dukuh Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek
Sikawan, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Daya, Ki Pasek
Temangkung, dan Ki Pasek Sukawana setuju.
Di situlah beliau membuka perkebunan kelapa dan tanaman palawija,
dibantu oleh ratusan rakyat pegunungan yang setia kepada Dalem Tarukan.
Lama-kelamaan makin banyak rakyat dan pemekel dari pulau Bali pesisir
utara yang berdatangan menghaturkan sembah sujud kehadapan beliau dan
tetap menjunjung beliau sebagai Dalem. Dalem Tarukan lalu bersabda:
"kamu semua rakyat pegunungan dan pesisir, aku menerima penghormatan
dan kesetiaanmu, tetapi janganlah kamu me-"cokor I Dewa" kepadaku,
karena kini aku bukanlah seorang Dalem lagi"
Walaupun demikian, rakyat tetap saja menghormati beliau dengan hatur:
"cokor I Dewa" karena tak seorang pun berani mengubah kebiasaan
sebutan. Terkenallah beliau sampai ke perbatasan di arah barat: Desa
Tejakula, di arah selatan: Desa Poh Tegeh, di arah Timur: Desa Ban, (arah
utara : Laut Bali).
Berkat asung kerta nugraha Ide Sanghyang Parama Kawi, hasil perkebunan

beliau melimpah, sehingga lama kelamaan keluarga dan pengiring beliau
kaya raya dan selalu bersuka ria. Maka tempat itu dinamakan Sukadana.
SUKADANA
Ide Bethara Dalem Tarukan sekeluarga beserta para pengiringnya
menikmati kebahagiaan hidup di Sukadana. Namun di suatu saat beliau
terkenang akan putri beliau, yaitu Gusti Luh Wanagiri yang meninggal dan
dikuburkan di Sukawana. Atas usul para pengikutnya yaitu Ki Pasek
Jatituhu, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Daya,
Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temakung, Ki Pasek Sikawan, Dukuh Bunga,
Dukuh Jatituhu, dan Dukuh Pantunan, dilaksanakanlah pelebon putri beliau
secara megah dan besar-besaran.
Lokasi upacara dipilih di Bukit Mangun; pada saat pembakaran, prabu layon
mengarah ke barat. Pemuput upacara adalah: Dukuh Bunga, Dukuh
Pantunan, dan Dukuh Jatituhu. Abu jenazah dipendem di Bukit Mangun.
Selesai upacara pelebon, mereka kembali pulang ke Sukadana. Beberapa
lama kemudian para pengiring beliau menyarankan agar rombongan
kembali ke desa Poh Tegeh, karena desa itu lebih layak dijadikan tempat
menetap.
POH TEGEH
Betapa gembiranya I Gusti Ngurah Poh Tegeh menyambut kedatangan Ide
Bethara Dalem Tarukan setelah sekian lama berpisah. Rombongan besar itu
dijamu secara meriah. Tiba-tiba timbul keinginan Ide Bethara Dalem
Tarukan untuk meneruskan perjalanan ke selatan karena seperti ada firasat
bahwa kemungkinan putra beliau yang beribu dedari Lempuyang masih
hidup dan kini berada entah di mana.
Hal itu disampaikan kepada Kiyai Poh Tegeh. Mula-mula Kiyai mencegah
rencana beliau itu; namun melihat beliau sangat bersemangat, Kiyai
mendukung serta memohon agar Dalem Tarukan sangat berhati-hati di
perjalanan. Beberapa hari kemudian rombongan beliau berangkat menuju
desa:
SIDAPARNA
Di desa ini beliau bertemu dengan beberapa penduduk yang memberikan
informasi bahwa Dalem Ketut yang menggantikan Dalem Wayan,
memerintah di Gelgel secara bijaksana dan semuanya berjalan sangat baik.
Dalem Ketut tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Dalem Tarukan.
Demikian pula para prajurit Samprangan yang dahulu mengejar Dalem
Tarukan tidak terdengar lagi kabar beritanya. Dalem Tarukan meneruskan
perjalanan ke:
GUNUNG PENIDA
Di suatu dataran tinggi Dalem Tarukan berhenti. Tempat itu sangat indah
karena diapit oleh dua buah sungai yang sangat jernih airnya. Dikelilingi oleh
hutan yang penuh dengan aneka satwa, ada tanah datar yang luas, cocok
untuk persawahan. Lama beliau termenung menikmati keindahan
pemandangan alami itu. Beliau berpikir, inilah tempat yang sangat sesuai
untuk tempat menetap. Jika meneruskan perjalanan, belum juga tentu ke

mana arahnya; di samping itu anggota rombongan beliau sudah lelah tinggal
berpindah-pindah.
Akhirnya beliau memutuskan menetap di daerah itu. Di sini beliau
membangun pondok-pondok, membuka sawah-ladang, serta menanam
padi, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan berbagai macam bunga.
Tempat itu oleh penduduk dinamakan Pulasari atau Pulasantun.
Kemudian Ide Bethara Dalem Tarukan menekuni Dharma Kepanditaan yang
menjadi keinginan beliau sejak berada di Tarukan. Keinginan ini seperti
mendarah daging karena leluhur beliau di Majapahit adalah Brahmana,
abiseka Danghyang Kepakisan. Kegiatan kepanditaan di Pulasari
berkembang pesat karena didukung oleh para Dukuh sekitarnya, misalnya
Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Darmaji, dan lain-lain. Di sela-sela
waktu pemujaan, Ide Bethara Dalem Tarukan tetap bekerja di kebun atau di
sawah sebagai selingan dan kesenangan.
Hentikan dulu sejenak, kini diceritakan keadaan putra Ide Bethara Dalem
Tarukan bernama Dewa Bagus Dharma yang tinggal di Puri Samprangan.
Sejak berusia 42 hari beliau ditinggal ibunda, moksah ke kahyangan. Di saat
membutuhkan air susu, datanglah seekor manjangan putih menyusui beliau
dan kemudian menghilang setelah sang bayi tertidur lelap. Keadaan ini
mengherankan seisi Puri, sehingga yakinlah mereka bahwa sang bayi
benar-benar putra seorang bidadari kahyangan. Ada seorang emban
(pembantu) yang sangat setia merawat sang bayi.
Setelah meningkat usia remaja, Dewa Bagus Dharma yang sering juga  disebut
dengan panggilan Dewa Agung Alit atau Dewa Gede Muter bertanya kepada
si-emban, siapa ayah dan ibu beliau. Si-emban dengan berlinang air mata
menceritakan riwayat Ide Bethara Dalem Tarukan. Sejenak beliau tercenung
lalu berucap bahwa ingin menemui ayahanda beliau. Si-emban dengan
berbisik memberitahu: "pergilah I Dewa ke arah pegunungan di utara; jika
bertemu seorang laki-laki tegap, tampan, tinggi, berkulit hitam, rambut
panjang berombak, tanpa baju, berkain hitam dengan saput poleng tanpa
ujung (seperti kain sarung), itulah ayahanda I Dewa".
Tidak menunggu waktu lagi, Dewa Bagus Dharma segera mengambil keris,
lalu berangkat ke arah utara. Tekad beliau sudah mantap; kerinduan
bertahun-tahun, haus kasih sayang, dan "jengah" mendorong beliau segera
ingin bertemu dan tinggal bersama ayahanda baik dalam keadaan suka
maupun duka. Berhari-hari beliau berjalan sambil memperhatikan
orang-orang yang ditemuinya. Tidak satu pun mirip dengan apa yang
diceritakan si-emban. Beliau tidak bertanya kepada siapa pun, karena
perjalanan ini dirahasiakan.
Suatu siang yang panas, tibalah Dewa Bagus Dharma di suatu persawahan
yang luas. Hanya ada satu orang di situ sedang asyik membajak sawah.
Beliau duduk dan kaget melihat orang itu sesuai benar dengan ciri-ciri yang
dikatakan si-emban. Hanya saja orang ini petani; ayahanda yang dicari
adalah seorang Raja. Tidak mungkin seorang Raja membajak sawah.
Sedang berpikir-pikir demikian, tiba-tiba sapi si-"petani" panik lalu lari
tunggang langgang. Peralatan bajak yang ditariknya patah tidak karuan

karena sapi-sapi itu mengamuk ingin melepaskan diri.
Si "petani" heran, kenapa sapinya tiba-tiba menjadi liar tak terkendali. Pasti
ada sesuatu sebab yang membuat sapinya ketakutan, misalnya harimau.
Namun tidak ada harimau di sekitar itu. Yang ada hanya seorang lelaki
remaja dengan sorot mata polos memandang kegaduhan sapi itu.
Si-"petani" yang tiada lain Ide Bethara Dalem Tarukan, menjadi marah
karena mengetahui penyebab sapinya liar adalah silaki-laki itu. Beliau
mendekati remaja itu lalu menghardik: "eh, apa kerjamu di sini, mengganggu
saya serta mengacaukan sapi-sapi saya"
Sang remaja yang disapa dengan keras itu juga marah, sehingga timbul
percekcokan. Kemarahan makin menjadi-jadi akhirnya sama-sama
menghunus keris berkelahi dengan sengit, saling pukul, saling tikam, saling
cekik, saling tindih, berjam-jam lamanya tidak ada yang terluka, sampai
kehabisan tenaga, sama-sama duduk bersebelahan. Dalem Tarukan heran
karena remaja ini kebal tubuhnya, ditikam tidak tergores apalagi luka. Beliau
lalu bertanya: "hai anak muda, siapa sebenarnya anda, dari mana, mau ke
mana dan apa kerjamu di tengah hutan ini seorang diri" Dewa Bagus
Dharma lalu menjawab: "saya bernama Dewa Bagus Dharma, dari Puri
Samprangan, tiba di hutan ini hendak mencari ayah saya bernama Ide
Dalem Tarukan, yang menurut informasi tinggal di sekitar daerah ini"
Mendengar itu, Ide Bethara Dalem Tarukan terkejut bagaikan disambar petir.
Dipandangnya wajah pemuda itu; ya Tuhan, Sanghyang Parama Kawi,
wajahnya bagaikan pinang dibelah dua dengan anakku I Sekar. Beliau tak
kuasa membendung air mata haru; dipeluknya pemuda itu seraya mengusap
kepalanya: "anakku Dewa Bagus Dharma, Ide Sanghyang Parama Kawi
maha agung dan maha pemurah, hari ini aku dipertemukan dengan anak
kandungku yang bertahun-tahun aku rindukan; nanak, ini ayahmu yang
kamu cari itu"
Sampai di situ Ide Bethara Dalem Tarukan tidak lagi berkata-kata; rongga
dada beliau sudah penuh sesak dengan keharuan tiada tara. Tak berbeda
dengan Dewa Bagus Dharma, tak kuasa beliau mengucapkan kata-kata;
hanya perkataan: "aji, aji, aji" seraya mengeratkan pelukannya sambil
bersimbah air mata. Lama kedua insan itu saling melepas kerinduan dan
kehangatan ayah-anak sambil menceritakan riwayat masing-masing.
Beberapa saat kemudian datanglah putra-putra Ide Bethara Dalem Tarukan,
yaitu Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari bermaksud menjemput
ayahanda beliau pulang ke pedukuhan. Ide Bethara Dalem Tarukan dengan
gembira mempertemukan ketiga saudara kandung buah hatinya itu. Mereka
lalu pulang ke pedukuhan Pulasari dengan suka cita. Gemparlah pedukuhan
Pulasari atas kedatangan penghuni baru yang tampan seperti kembarannya
Gusti Gede Sekar, namun usianya sedikit lebih dewasa. Malam hari
pertemuan itu dirayakan dengan meriah, makan, minum, menari, dan
menyanyi. Ketujuh bersaudara lelaki, putra-putra Ide Bethara Dalem
Tarukan asyik berbincang sampai larut malam. Akhirnya kantuk membawa
mereka ke alam mimpi yang indah. Dewa Bagus Dharma sudah sejak awal
memutuskan tinggal menetap bersama-sama ayah, para ibu dan
saudara-saudaranya di Pulasari.

Bersambung bag 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar